Selasa, April 09, 2013

Hembusan Cinta dari Penjara Suci 1

    Tunggal Jaya baru saja melewati kilometer tujuh perbatasan Tegal dengan Brebes Selatan. Bus jurusan Bandung-Purwokerto itu merangkak cepat di tanjakan Ciregol yang menikung, menyibakkan tiupan angin kencang yang menghadang, serta menyalip dua truk besar di
depannya yang melaju tertatih. Beruntungnya tidak ada arus berlawanan. Penumpang laki-laki bersorak puas. Dengan laju secepat itu, tujuan masing-masing akan ditempuh lebih awal dan tepat waktu, harap mereka.
     Namun tidak demikian halnya dengan seorang pemuda penumpang di jok belakang sopir itu. Ia merasa jengah dengan histeria mereka. Wajahnya justru sedang tegang dan berkeringat. Fikirannya tengah diliputi perasaan tidak nyaman.
     " Aku harus menemui paman dan bibi lebih dulu, " Ilham, nama pemuda ini menoleh, melihat dengan hampa pepohonan pinggir jalan yang seolah berlarian. Jalan yang dilaluinya kian memendek. Sebentar lagi ia akan segera sampai. Hatinya masih gundah-gulana.
     " Segeralah pulang, Ilham. Majlis taklim Ar-Ridla tengah membutuhkan pengabdianmu, " isi surat pertama diterimanya setahun yang lalu ketika ia masih betah-betahnya menimba ilmu di sebuah pesantren, di daerah Sumedang. Namun Ilham tidak bergeming. Ia terpaksa menolaknya karena merasa belum mendapatkan ilmu yang cukup.
     Maka, surat kedua pun datang setahun kemudian. " Zaman berjalan cepat, Ham. Kampung kita bukan lagi seperti tujuh tahun yang lalu ketika kamu tinggalkan...."
     Ilham sedikit tersentak dari lamunannya ketika kernet bus berteriak-teriak menyebut nama sebuah desa. Ia segera menyahut meminta turun.

-----------oo0oo-----------

     Kehadiran Ilham disambut gembira oleh orang tua angkatnya yaitu ustadz Hamzah dan Fatimah, istrinya. Juga rekan-rekan sepermainannya dulu yang selama tujuh tahun baru dilihatnya lagi. Mereka adalah Faiz, Miqdam, Abdullah, Hasan, Umar dan Maulida.
     Fitria Akhlami, gadis belia putri pasangan ustadz Hamzah dan Fatimah, yang sedari tadi bergelayut manja di leher ibunya, dengan riang menyapa Ilham, " Apa kabar, Kak Ilham ? " Kemudian dia langsung menyalami dan mencium tangannya. Namun wajahnya seketika bersemu merah ketika Faiz, Miqdam, Abdullah, Hasan, Umar dan Maulida menyorakinya.
     " Alhamdulillah, baik... " jawab Ilham tergagap. Ia tidak menyangka Fitria yang pendiam dan dulu kerap digendongnya itu, kini tumbuh menjadi gadis yang cantik dan periang. Ia buru-buru beringsut, menghindari senyum manis Fitria dan tatapan teman-temannya.
     " Terima kasih, Paman dan Bibi. Juga sahabat-sahabat saya semua. Saya merasa dimuliakan dengan sambutan kalian. Dan mohon maaf saya baru bisa pulang hari ini, " ucap Ilham agak terbata, namun ia tulus pada orang tua angkat dan teman-temannya itu.
     Ustadz Hamzah tersenyum. Sementara istrinya mengangguk lirih. Ia seperti masih tertegun, seolah masih tak percaya melihat sosok di depannya ini. Keponakan suaminya yang telah duabelas tahun diasuhnya itu kini sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa dan rupawan. Ia menyembunyikan senyumnya, namun kemudian membaginya dengan putri semata wayangnya, Fitria Akhlami. Fitria yang dipandang begitu rupa oleh ibunya itu hanya bisa tersipu.
     " Ilham tambah ganteng yah, Fit ? Kulitnya putih, padahal dulu hitam, lho ? " puji Maulida tiba-tiba, mengerling ke Fitria. " Sebaiknya sekarang kalian jangan berkakak dan beradik lagi, " godanya lanjut.
     Fitria ternganga, seketika dia menjitak kepala temannya itu. " Kak Ilham sepupuku, tahu ?! " semprotnya seraya merangkul lehernya kencang.
     " Yeee... sepupu kan bukan mukhrim ? " teriak Maulida berontak. Dia mentertawakannya, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang kena jitak tadi.
     Kecuali Ilham yang wajahnya memerah, semua yang hadir akhirnya ikut tertawa.

-----------oo0oo----------- 

     Ilham merasa bersyukur atas kebaikan ustadz Hamzah dan keluarganya yang tetap menerima kehadirannya seperti dulu lagi, sebelum ia memutuskan menimba ilmu di pesantren. Ia telah menganggap mereka sebagai pengganti kedua orang tuanya yang sudah wafat ketika ia masih balita. Kedua orang tuanya tidak mempunyai warisan apapun selain rumah gubuk yang kini sudah rata dengan tanah, tersapu banjir bandang setahun yang lalu. Keluarga yang ditinggalkan pun hanya dirinya dan paman yang sesungguhnya adik kandung ibunya.
     Kini ia hidup bahagia bersama keluarga pamannya itu. Dan ia juga merasa bersyukur dengan banyaknya teman sepermainannya dulu, serta masyarakat yang menghormatinya sebagai seorang lulusan pesantren. Namun ia tidak setuju ketika mereka kemudian memanggilnya ustadz.
     " Kamu jangan ikut-ikutan memanggilku ustadz, Fit. Aku risih mendengarnya, " protes Ilham pada Fitria. Ia baru saja selesai mengajari kitab kuning, di rumahnya. Sebetulnya ia sempat menolak mengajarinya, karena ia merasa gugup menghadapi Fitria dengan usia dan sosoknya yang sekarang. Tapi akhirnya ia tidak bisa menolak ketika pamannya terus mendesak dengan berbagai alasan.
     " Lalu, Fitria harus memanggil Kak Ilham siapa ? " tanya Fitria manja.
     " Nah, seperti tadi. Panggilanmu dulu kepadaku tidak perlu berubah, " jawab Ilham malu-malu.
     " Mas atau Kak ? " tanya Fitria meledek. Lalu tertawa cekikikan melihat Ilham kebingungan.
     Ilham jadi salah tingkah.
     " Fitria sekarang sudah kelas satu Aliyah lho, Kak ? " celoteh Fitria kemudian, dengan manja. Kemanjaan yang tidak berubah, seperti ketika dia masih kanak-kanak dulu.
     Ilham tersenyum. " Syukurlah... " ucapnya lirih.
     " Kak Ilham, kok, kayaknya kurang senang mendengarnya ? " tanya Fitria heran.
     Ilham sedikit tertegun atas pertanyaan bombastis gadis di depannya itu, " Ah, nggak ? Aku sangat senang mendengarnya, kok. Alhamdulillah.. " terangnya segera. Ia kemudian membuang nafasnya pelan. " Sudah tujuh tahun aku meninggalkan rumah ini saat kamu masih kelas tiga sekolah dasar. Tentu aku senang bisa melihatmu sudah tumbuh dewasa, " katanya menghibur.
     Fitria tersenyum manis.
     " Oya, maaf, Fit. Kak Ilham keluar dulu, yah ? " ucap Ilham seketika.
     Fitria menoleh, melongo memandang Ilham yang tiba-tiba permisi meninggalkannya. Dia tersenyum kecut.

-----------oo0oo-----------
     Ilham hampir saja mengurungkan langkahnya kalau saja salah satu santri tidak berteriak memanggil namanya dari salah satu ruang pengajian Ar-Ridla. Entah kenapa ia merasa tidak suka begitu melihat Fitria berbincang akrab dengan  Miqdam di kantor majlis taklim yang bersebelahan dengan rumah pamannya itu.
     Faiz, seorang teman dan sekaligus ustadz di majlis taklim itu menghampirinya. " Antum akan kalah bersaing jika terus berdiam diri, Ham. " senyum Faiz seolah tahu apa yang ia rasakan.
     Ilham terperangah. " Astaghfirullah... Antum ? "
     Faiz menepuk halus pundaknya, " Jangan munafik. Berterus terang sajalah... " katanya dengan mimik serius.
     Ilham melirik Faiz yang berjalan keluar. Sementara matanya mencari-cari keberadaan Fitria yang sudah pergi entah ke mana.
     Ketika larut menjelang, Ilham kembali merasa gelisah di ruang majlis taklim. Ia tidak bisa tidur. Sejak kedatangannya sebulan yang lalu ia memang telah memutuskan tidur di majlis taklim ditemani sahabatnya, Faiz. Ia kemudian bangkit, melangkah ke jendela kaca. Matanya melirik ke ruang tamu pamannya yang tampak sudah gelap. Memorinya bangkit, teringat masa kecilnya bersama teman-temannya, terutama Fitria Akhlami. Gadis kecil sepupunya itu selalu merengek meminta ikut bersamanya jika ia hendak pergi bermain bersama teman-teman lelakinya.
     Ilham tersenyum. Kini gadis kecil yang dulu juga suka minta digendongnya itu telah tumbuh menjadi gadis dewasa dan cantik. Fitria ibarat bunga desa di kaki gunung slamet yang diidam-idamkan pemuda di desanya, terutama Miqdam, seperti yang dikatakan Faiz tadi sore.
     " Kamu harus berani berterus terang, Sobat, " suara Faiz tiba-tiba muncul dari belakangnya dan membuatnya sedikit terkejut.
     Ilham terduduk ke atas karpet, punggungnya menyandar ke dinding tembok. Faiz ikut duduk bersila di depannya. Ia menyalakan rokok. Asapnya yang putih tampak jelas di gelapnya ruangan itu. Dan rupanya dia juga telah membuat dua cangkir kopi hitam.
     Ilham menarik nafas berat " Kamu sudah lama terbangun ? " ia memandang heran pada sahabatnya itu.
     " Kamu kira aku tidak melihat kamu mondar-mandir dari tadi ? " tanya Faiz terkekeh.
     Ilham mencibir, " Panas sekali malam ini, Is. "
     Faiz tertawa.
     Ilham menghardiknya pelan, " Jangan keras-keras, orang-orang nanti pada bangun gak enak kita. "
     " Hmm...Tapi aku heran, jangankan kamu berterus terang pada Fitria, berbagi rasa padaku pun kamu malu. Kamu harus berusaha mengungkapkannya, Ham. " sesal Faiz, menyodorkan rokok seraya menatap lekat kepadanya.
     Ilham menghela berat. " Fitria masih sekolah, Iz. "
     Faiz tersenyum. " Kamu akan ketinggalan pemuda lain yang sedang mati-matian mencuri perhatiannya. "
     Hati Ilham menjadi resah. Ia terigat keakraban Fitria dan Miqdam tadi sore. " Tapi, bagaimana dengan paman dan bibiku ? Apakah mereka tidak akan shock kalau ponakannya ini jatuh cinta pada anaknya ? " tanyanya ragu.
     " Fitria bukan mukhrimmu. Kecuali kalau kamu jatuh cinta pada ibunya, itu yang jadi masalah ! Ha...ha...ha... "
     " Nglantur, kamu ! "
     " Aku memang harus segera memutuskan, " tekad Ilham kemudian, setelah keduanya terdiam cukup lama dalam kebisuan dan asap rokok masing-masing.
-----------oo0oo-----------
   
Posting Komentar