Senin, April 01, 2013

Nyi Blorong Meminta Tumbal ?

     
2 kidul
Nyi Blorong yang konon merupakan putri Ratu Pantai Selatan alias Nyi Loro Kidul adalah siluman ular yang kerap dimintai orang-orang sebagai sarana meminta kekayaan. Tentu saja  dia akan meluluskannya dengan syarat orang-orang yang memintanya mau memberikan tumbal kepadanya pada waktu dan hari-hari tertentu. Dan kali ini dia hendak meminta tumbal seorang gadis cantik

di sebuah desa wilayah Brebes Selatan, Jawa Tengah. Nafilah, nama gadis itu, adalah remaja belia yang hampir menjadi korbannya, kalau saja Kuasa Allah tidak turun tangan merengkuhnya dari ganasnya pelaku pesugihan Nyi Blorong.
     Peristiwa mendirikan bulu roma ini berlangsung pada Agustus 1999 yang lalu. Berawal dari libasan krisis moneter yang berkepanjangan dan memporak-porandakan usaha perkayuan Johan. Beberapa kali dia harus jatuh bangun membangun kembali usahanya yang telah gulung tikar itu. Namun rupanya takdir berkehendak lain.  Dia menjadi salah satu korban krisis ekonomi. Johan dan keluarganya benar-benar tengah terpuruk.  
     Sebenarnya yang senasib dengan Johan sangat banyak, ribuan bahkan  jutaan rakyat Indonesia tengah dalam masa prihatin. Namun Johan merasa bahwa hanya dirinya saja yang sedang bernasib buruk.
     " Buktinya tetangga kita banyak yang tetap kaya. Bahkan si Dajjal sepertinya tambah kaya saja, Pa ? " goda istri Johan merayu-rayu agar suaminya berani mengambil jalan pintas, membuat perjanjian pesugihan.
     Isyu yang berkembang memang banyak penduduk kampung yang kemudian banting setir untuk merubah nasibnya. Tak sedikit mereka yang kemudian melakukan pesugihan Babi Ngepet, memelihara Tuyul, Monyet Putih, dan lain-lain. Kebenaran isyu itu sendiri sulit dibuktikan karena merupakan hal ghaib atau tak terlihat. Namun bisik-bisik tetangga inilah yang kemudian membuat Johan dan istrinya mata hatinya menjadi gelap. Imannya melayang. Dan mereka kemudian benar-benar menggadaikan imannya dengan Nyi Blorong, jenis pesugihan yang dipilihnya. Mereka tidak lagi menjadi hamba Allah tapi sebaliknya menjadi hamba Nyi Blorong, makhluk siluman yang sebenarnya merupakan hamba Allah juga, seperti Johan dan istrinya.

Tumbal Nyi Blorong Bergelimpangan
     Setelah Johan dan istrinya selesai membuat perjanjian dengan Nyi Blorong maka perekonomiannya kembali terangkat. Tidak lagi lambat laun, tapi melesat cepat. Mereka menjadi kaya raya. Namun tidak dinamakan pesugihan jika 'Sang Pemberi Sugih' tidak meminta balas budi. Sayangnya balas budi itu berupa nyawa beberapa anggauta keluarganya yang justru mereka cintai.
     Suatu ketika mereka memilih seorang gadis cantik tetangganya sendiri. Nafilah, si gadis itu, hendak 'diserahkan' pada senja Selasa Kliwon di bulan Agustus. Kala itu Nafilah tengah bercengkerama dengan temannya di teras depan rumahnya sendiri. Namun gadis itu tidak menyadari kalau ada sepasang mata syetan yang tengah mengintainya sejak tadi. Maka ketika ia tengah hanyut dalam keasyikan bercanda, sepasang mata jahat itu merasa menemukan peluang untuk merengkuhnya.
     Dan Nafilah tiba-tiba kesurupan, tangannya mencekik lehernya sendiri. Sehingga lidahnya menjulur keluar. Matanya melotot. Dan seketika tubuhnya terjatuh, berguling-guling sambil tangannya terus mencekik lehernya. Temannya yang terkejut spontan berteriak histeris dan meminta tolong, menyentakkan warga desa yang kemudian berserabutan datang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Yang perempuan spontan menjerit-jerit histeris menyaksikan keadaan Nafilah. Sementara kaum lelakinya sigap menolong si gadis, menarik tangannya yang tengah mencengkeram leher. Namun apa yang terjadi ? Lelaki-lelaki kuat itu terhempas oleh kibasan Nafilah.
     Mereka terkejut dan heran. Namun mereka terus memberanikan diri menolong Nafilah yang mulai kelojotan dengan lidah menjulur dan kedua mata melotot merah itu.  Dan lagi-lagi lelaki tetangganya itu kembali terlempar. Dalam situasi demikian, seorang lelaki tua yang entah datang darimana tiba-tiba menyeruak maju hendak membantunya. Namun tiba-tiba sebentuk tangan kekar milik lelaki di sampingnya menahan langkahnya. " Apakah kamu bersedia menggantikan posisi gadis itu, Mbah ? " ancam si lelaki yang menyikut dadanya itu melotot.
     Si mbah tersentak kaget.
     " Hati-hati ! " bisik si lelaki kembali mengancam, dia melangkah pergi.
     Si mbah hanya terpana, nyalinya menciut. Dia hanya bisa menghela nafas berat. Melihat si gadis hanya dengan rasa iba, tanpa bisa berbuat apa-apa. Nalurinya hanya mengatakan orang itu pasti ada hubungannya dengan keadaan si gadis. Si mbah hanya bisa menggeram tak bersuara.

Sang Penolong
     " Nyuwun sewu, minggir ! Minggir, minggir...! " teriak Ihsan, salah satu pemuda yang tadi langsung lari keluar kampung begitu melihat keadaan gadis tetangganya itu,  menyibak kerumunan orang-orang di sekitar Nafilah. Ia datang menggandeng seorang lelaki paruh baya.
     Orang-orang spontan memberi jalan, sehingga Ikhsan dan Jaka, lelaki itu, leluasa sampai ke depan tubuh Nafilah yang tengah meronta-ronta. Gadis itu dengan susah payah  dibopong ke  rumahnya, di atas ranjang. Belasan lalaki bergantian memegangi tangan dan kakinya yang terus meronta seperti sapi yang hendak disembelih.
     " Tolong, jangan sampai terlepas ! " pinta Jaka mengingatkan orang-orang yang tengah menjagainya. " Dudukkan dia dan kedua kakinya diselonjorkan !" lanjutnya memberi perintah. Dia harus bergerak cepat kalau tidak ingin nyawa si gadis melayang.
     Bayu segera menggenggam kedua ibu jari kaki Nafilah. Mulutnya tak henti bergerak melafalkan amalan khusus. Sejurus kemudian dia menarik nafas berat dan cepat, menahannya di bawah pusarnya. Lalu... tiba-tiba tangan kirinya bergerak cepat, menekan pusar Nafilah sehingga mengeluarkan bunyi, " Deb ! Deb ! Debb ! "
     " Aaahhhrrr.....!!!!! " terdengar jerit melengking dan kesakitan yang keluar dari raga Nafilah. Sedetik selanjutnya angin yang amat deras melabrak ke luar pintu sehingga menimbulkan bunyi berderak yang amat keras dan memekakkan gendang telinga.
     " Duaaarrrrr.....!!!!! "
     Orang-orang langsung terkesiap, tersungkur mundur. Sementara tubuh Nafilah langsung terkulai lemas, ia pingsan.
     " Tampaknya Nafilah akan menjadi wadal Nyi Blorong, " duga Jaka lirih, ketika Ihsan mencoba mengorek apa yang baru saja menimpa Nafilah, tetangganya.

Malam Mencekam
     Bisikan Bayu pada Ihsan rupanya menyebar luas di desa yang terletak di kaki gunung Slamet itu. Ketika malam tiba, penduduk terutama kaum perempuan dan anak-anak, didera ketakutan yang amat sangat, karena mereka kerap mendengar tangis perempuan yang menggidikkan bulu kuduk. Sementara kaum lelaki berjaga-jaga, meronda keliling kampung. Mereka acap dibuat kesal oleh suara tangis perempuan itu. Karena begitu didekati suara itu langsung menghilang, lenyap bersamaan bersiurnya udara dingin nan bertiup kencang. Begitu juga pada malam-malam berikutnya. Suara tangis itu kembali terdengar dan lenyap seketika ketika didekati. Suara itu seperti menghilang ke dalam perut bumi.
     " Kita harus bagaimana, Kang ? " tanya seorang warga pada ketua RT.
     " Tetaplah meronda. Jangan lupa berdoa mudah-mudahan saja itu tangisan Nyi Blorong karena telah dikalahkan oleh pemuda pintar itu. Dan kampung ini segera aman seperti sedia kala, " jawab ketua RT berharap.
     " Apa memang betul itu pekerjaan Nyi Blorong, Pak ? " tanya warga yang lain, tubuhnya bergidik ngeri.
     " Wallaahu a'lam. Kebenarannya sulit dibuktikan. Saya bukan orang pintar, " desah ketua RT seperti hendak putus asa.
     Sementara malam bertambah larut, pagi menjelang, menjemput siang. Masing-masing warga beraktifitas seperti biasanya. Namun pembicaraan Nyi Blorong yang hendak merenggut nyawa Nafilah tetap hangat dan berantai-rantai, merembet ke desa-desa di sekitarnya.

Ihsan Menjadi Korban
     Dini hari itu Ihsan terjaga dari tidurnya di kursi ruang tamu rumahnya, setelah kelelahan keliling kampung bersama warga . Dia dikejutkan oleh suara tangis di depan rumahnya. Segera dia beranjak. Dengan keberaniannya dia langsung membuka pintu rumahnya. Tapi Ihsan hanya menuai kesal karena suara itu langsung lenyap. Lalu dia kembali menutup pintu dan berjalan ke dapur. Dia harus membuat dagangan kue untuk esok hari seperti biasanya. Sementara istrinya tengah terlelap, mendekap putri semata wayangnya.
     Ihsan seketika menengok kaget ke belakang. Dia merasa ada seseorang yang tengah mengawasi gerak-geriknya di dapur. Namun dia hanya menghela berat dan bibir coba berzikir untuk membunuh rasa takutnya. Dia kemudian berjongkok di depan tungku masaknya. Pada saat itulah tiba-tiba datang angin yang super kencang melabraknya. Namun sebelum tubuhnya dikoyakkan, sekonyong-konyong sebuah tangan ghaib merengkuh dan melemparkan tubuhnya keluar dapur yang yang terbuat dari anyaman bambu itu.
     Ihsan selamat dan hanya lecet-lecet, namun dapurnya telah porak-poranda dihantam angin tadi. Tetangganya telah berdatangan untuk menolongnya. Namun hati mereka diliputi kengerian luar biasa melihat pemandangan di dapur itu
     " Saya kira orang yang nyupang itu dendam sama saya gara-gara memanggilmu dulu, Ka. " lapor Ihsan pada Jaka.
     " Jangan cemas. Saya sudah berusaha memagari rumahmu. Dan sebaiknya kamu banyak-banyak berdoa agar dilindungi oleh Allah SWT. " pesan Jaka.
    Ihsan mengangguk dan sedikit menghela nafas lega. " Kira-kira apa yang akan dilakukannya lagi setelah gagal mendapat tumbal Nafilah dan saya, Ka ? " tanyanya kemudian.
    " Wallaahu a'lam. Entahlah...Mungkin akan ada perjanjian baru antara orang itu dengan Nyi Blorong. " elak Jaka mengira-ngira.
    " Saya berharap dia bertobat saja agar tidak ada malapetaka lagi, " desah Ihsan berharap.
    " Amin....." timpal Jaka mengamini.


Cerita mistis ini diangkat dari kisah nyata dari cerita seorang teman untuk diambil hikmahnya. Nama-nama pemeran dan tempat hanyalah samaran untuk melindungi privasi mereka. 
Posting Komentar