Rabu, April 10, 2013

Hembusan Cinta dari Penjara Suci Bag. II

      Ilham terduduk di kursi ruang keluarga ustadz Hamzah dengan perasaan bingung. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ustadz Hamzah dan istrinya yang duduk di seberangnya menatapnya tajam. Wajah keduanya masih memendam kemarahan yang sama sekali tak ia
mengerti. Sementara Faiz yang duduk di sebelahnya pun diam seribu bahasa. Dia bahkan tampak tegang dan berkeringat.
     " Apa yang sebenarnya tengah terjadi ? " hati Ilham bertanya-tanya, merasa aneh. " Apakah mereka marah karena ba'da Ashar dan Isya tadi aku tidak mengajar ? " ia tercenung. Ia menduga-duga, hatinya agak terkejut. " Jangan-jangan... " bathinnya cemas.
     Satu menit berlalu, hingga lima menit kemudian tak seorangpun yang bersuara. Ilham merasa tertekan dengan keadaan ini. Tatapan penuh tanyanya pada Faiz hanya dibalas tundukan kepala dan gelengan lemah.
     Ustadz Hamzah menarik nafas berat. Lalu berdehem lirih, " Sebenarnya, " dia mulai angkat bicara, suaranya sedikit bergetar. " Sudah menjadi sunnatullah, antara lain jenis saling jatuh cinta, " lanjutnya pelan, namun tegas.
     Ilham menengadah, tertegun. Seperti ada suara gemuruh petir mendengarnya. Ia menerka-nerka apa maksud perkataan pamannya itu.
     Ustadz Hamzah kembali menarik nafasnya dengan berat. Sementara istrinya tetap terdiam, memperlihatkan wajah tak bersahabat. Seperti bukan lagi bibi Fatimah yang Ilham kenal selama ini. " Cinta itu anugerah Tuhan... dan suci. Maka, perasaan cinta pada seseorang itu... menjadi salah satu bagian nikmat yang diturunkan Allah kepada setiap hamba-Nya. Tapi, jika cinta itu sudah dibarengi dengan nafsu syaithaniyyah, itu artinya sudah tidak ada lagi kesucian di dalamnya ! " tegas ustadz Hamzah.
     Ilham menelan ludah. Dadanya mendadak sesak. Ia mencoba menterjemahkan arah pembicaraannya. Semua terdiam. " Maaf, Paman. Apa maksud paman dengan membicarakan itu ? " tanya Ilham kemudian. Ia memberanikan diri bertanya, pelan dan hati-hati. Dadanya berdebar-debar. Ia merasa mulai mengerti.
     Ustadz Hamzah menoleh tajam.  Dadanya menggemuruh, menahan amarah yang mulai membuncah, " Jangan pura-pura tidak tahu ?! " tuduhnya dengan nada tinggi. Istrinya  menyabarkannya sambil menahan tangis.
     Ilham menunduk dalam. Ia merasa bersalah dan menyesali perasaannya selama ini.
     " Kamu ceritakanlah, Ilham. Semuanya, tanpa ada yang kamu tutupi, " pinta Faiz menengahi.
     Ilham menoleh terkesiap. Matanya melirik tajam ke arah Miqdam yang duduk di sebelah Faiz. Ia tampak ragu dan sekuat tenaga membuang prasangka buruk padanya. Ia lalu beristighfar lirih.
     " Ceritakan saja ! " pinta Faiz menepuk-nepuk punggungnya. Dia memberi kekuatan pada sahabatnya ini.
     Ilham mendesah panjang, berusaha mengumpulkan keberanian. Lalu menoleh ke paman dan bibinya yang terus menatapnya dengan wajah kecewa. " Ba, baiklah... " ucapnya dengan terbata. Keringatnya mulai menetes dan tak terbendung. Ia sesungguhnya agak ragu dan takut mengungkapkannya. Tapi, seperti pinta sahabatnya itu, ia harus jujur dan tidak perlu menutupinya lagi. Ilham merapikan duduknya yang bergeser-geser tak teratur karena nervous. Lalu mencoba memberanikan diri menata kata-katanya, " Sebenarnya, saya tidak menduga perasaan ini akan muncul dengan tiba-tiba. Karena, saya tidak pernah bermimpi dan mengharapkannya..."
      Ilham menarik dan membuang nafasnya dengan perlahan. Ia tampak tegang. " Aku harus berani ! " batinnya menguatkan.
     Sementara ustadz Hamzah dan Fatimah, Faiz dan Miqdam deg-degan menunggunya.
     " Seperti kata paman, cinta itu anugerah dan sunnatullah, " kata Ilham menoleh ke pamannya.
     Ustadz Hamzah menatapnya tajam.
     Ilham tampaknya sudah siap dengan resiko apapun yang akan diterimanya. Ia menoleh, memandang pada bibi Fatimah dengan wajah memelas, " Maafkan aku Bibi. Juga Paman. Maafkanlah aku... "
     Ustadz Hamzah dan Fatimah masih tak bergeming.
     " Saya mencintai Fitria Akhlami, putri kalian... " ungkap Ilham akhirnya. Hatinya merasa lega, meski tetap ketar-ketir.
     Ustadz Hamzah dan Fatimah terkesiap. Fitria yang diam-diam belum tidur dan mendengarkan pembicaraan mereka di kamarnya juga terkejut bukan kepalang. Namun kemudian dia segera menguasai diri dan tersenyum.
     Miqdam tersenyum kecut, punggungnya menyandar lesu. Dia merasa telah kalah.
     Sementara Faiz menahan tawa, dia menyikut perut Ilham di sampingnya. " Ham, bukan itu maksudnya ?! " cegahnya melotot.
     Giliran Ilham yang celingukan kebingungan. " Hah ?! Lalu ?! " tanyanya tercekat. Lidahnya mendadak kelu. Dan wajahnya merah padam menahan malu.
     " Maksud mereka perempuan pelayan warung pinggir jalan itu ?! " terang Faiz geregetan akhirnya.
     " Masya Allah... ! " jerit Ilham. " Jadi ?! Astaghfirullah... Ini pasti ada yang tidak beres, Iz, " lanjutnya kalang kabut.
     " Kamu yang tidak beres, Ham ! " sela Miqdam merasa mendapat amunisi.
     " Aku hanya menolongnya, apakah itu salah ?! " kata Ilham membela diri.
     " Menolong ? Apa maksudmu ? " tanya ustadz Hamzah tak mengerti.
     " Fitria kenal Kak Ilham sangat lama. Kak Ilham orangnya jujur, " Fitria tiba-tiba muncul dari dalam. Wajahnya menahan tangis. Dia tampak tidak senang kakak sepupunya itu dipojokkan begitu rupa.
     Ustadz Hamzah yang langsung shock mendengar pengakuan lugu ponakannya ini, terkejut melihat kehadiran putrinya. Buru-buru dia menengahi. " Sudahlah ! Sekarang kamu, Ilham. Ceritakanlah yang apa sebenarnya terjadi. "
     " Ada hubungan apa kamu dengan pelayan warung itu, Ham ? " tanya Fatimah ikut meminta ketegasannya. Dia berharap Ilham bisa berkata jujur.

-----------oo000oo-----------

     Pertemuan Ilham dengan pelayan warung makan pinggir jalan, bermula ketika ia dalam perjalanan pulang dari kebun pamannya. Ia tiba-tiba mendengar teriakan minta tolong seorang gadis dari dalam warung berbentuk gubuk memanjang itu. Sebagai orang yang berjiwa santri, tanpa fikir panjang ia langsung berlari ke dalam untuk menolongnya. Ternyata benar, ada seorang gadis pelayan warung yang sedang dipaksa melayani nafsu syaitan seorang supir truk. Herannya pemilik warung dan dua pelayannya yang lain diam saja. Mereka tak berusaha menolongnya sama sekali. Pengunjung yang rata-rata sopir dan kernet truk pun hanya tertawa-tawa menyaksikannya. Mereka bahkan menghalanginya ketika ia berusaha membawa kabur si gadis, sehingga terjadilah perkelahian. Namun Ilham dengan cepat dapat mengatasinya. Ia dan si gadis berhasil kabur dengan bus yang diberhentikannya.
     Ilham akhirnya berhasil mengantarkan si gadis pulang ke rumahnya dengan selamat, di daerah Tegal. Setelah itu ia pulang ke rumah pamannya. Namun rupanya paman, bibi, Faiz dan Miqdam sudah menunggunya di depan pintu dengan wajah gelisah. Dan ia diam saja ketika pamannya langsung memarahinya sambil menyuruhnya masuk ke dalam.
     Ustadz Hamzah, Fatimah, Fitria Akhlami dan Faiz mendesah panjang. Mereka saling berpandangan. Sementara Miqdam hanya diam seribu bahasa.
     " Itu memang warung makan remang-remang, Ustadz, " terang Faiz. Dia ikut lega mendengar penuturan sahabatnya ini.
     " Kata gadis itu dia diajak temannya bekerja sebagai pelayan, tapi pemilik warung malah... " Ilham menggeleng-geleng.
     " Sudahlah... Yang penting sekarang semuanya sudah jelas, " sela ustadz Hamzah menenangkannya.
     " Lalu bagaimana dengan pinangan Ilham sama Fitria, Ustadz ? Apakah diterima ? " tanya Faiz melucu.
     Miqdam merengut.
     Ustadz Hamzah dan istrinya saling berpandangan. Lalu tertawa. Sementara Ilham dan Fitria saling melirik dan tersipu.
     " Fitria, kopinya mana ?! " teriak Faiz pura-pura marah.
     Dan, mereka akhirnya tertawa lega.   
   ###########
     
Posting Komentar