Jumat, Mei 03, 2013

Kisah sedih Janda Beranak Dua

     
keranda jenazah
     Kisah ini berlangsung persis setahun yang lalu. Kami mengangkatnya dengan harapan dapat mengetuk hati pembacanya, agar lebih peduli (lagi) kepada saudara atau tetangganya yang tak mampu.
     Adalah seorang perempuan perkasa, single father dengan dua orang anak yang masih kecil-kecil. Sebut saja namanya Siti Masitoh, perempuan kuat yang memikul beban dan tanggung
jawab melanjutkan bahtera rumah tangganya sendirian. Sementara dua orang anaknya telah bersekolah di Sekolah Dasar dan Lanjutan Pertama. Ia membiayai hidup diri dan dua orang anaknya itu dari belas kasih tetangganya yang memberinya pekerjaan dengan upah pas-pasan.
     Kemana suaminya ? Dia telah lama pergi, bukan meninggal, tapi lari dari tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Mending-mending dia meninggalkan harta benda atau usaha untuk kelanjutan hidup istri dan dua orang anaknya. Rumah yang ditinggalkannya pun, tak lebih sebuah gubuk yang hampir roboh karena tidak rutin direnovasi tiap tahunnya
     Hidup Masitoh menggantung. Disebut janda masih bersuami. Berstatus punya suami tapi bertahun-tahun tidak mendapatkan nafkah lahir bathin. Dan kian memprihatinkan lagi karena kakak satu-satunya, Syafei, yang dikaruniai kekayaan seolah tak perduli dengan nasibnya. Bahkan ketika ia harus dibawa ke rumah sakit umum Margono di Purwokerto, sang kakak yang mengantarkan dengan mobil rentalnya kemudian membebani biaya perjalanannya seperti pada umumnya melayani orang lain !
     Rizal, salah seorang tetangga Masitoh yang ikut mengiringinya hanya bisa mengusap dada. Namun dengan lega hati ia kemudian ikut menanggung biaya itu. Subhanallah...
     Kini, perempuan itu telah tiada, meninggalkan dua orang anak yang kebingungan harus menyandarkan keberlangsungan hidupnya kepada siapa. Ayahnya ? Dia tidak datang ketika sang istri meninggal dunia. Lalu bagaimana dengan Syafei, kakak ibu mereka ? Dia seolah tidak menganggap bahwa keduanya masih ada.Terbukti acara tahlilan yang rame-rame disponsori para tetangga itu tak diindahkannya. Dia memang ikut hadir, tapi tidak ada sumbangan suguhan bagi para pelayat atau jamaah tahlil darinya, seperti pada umumnya kaum sunni . Bahkan uang hasil orang berta'ziyah sejumlah Rp 120,000 yang dipegang istrinya pun berkurang Rp 50,000 ! Masya Allah... !
    Sedemikian sulitkah melapangkan dada dan membetangkan kedua tangan untuk memberi kasih sayang pada saudaranya ? Semoga perempuan kuat itu diterima di sisi Allah yang Maha Kaya dan Berkuasa. Sehingga ia diberi keistimewaan untuk mendoakan kebahagiaan dan kesuksesan kepada kedua anaknya, amin.....
     Wallahu a'lam bish-showab.

Baca juga pos lainnya di bawah...
Posting Komentar