Jumat, Juli 12, 2013

Bab Puasa Kitab Safiinatun-Najaah

kitab kuning
     Pada posting kali ini kami mengangkat tema puasa, ikhwal ketentuan awal Ramadlan, syarat dan rukun berpuasa. Tema yang kami maksud adalah terjemah yang langsung kami turunkan dari kitab kuning aslinya, fiqih dasar yakni kitab Safiinatun-Najaah karangan asy-Syech al-'Alim
al-Fadlil Salim bin Sumair al-Khadhramy pada madzhab Imam Syafii. Semoga kita dapat mengambil manfaat dan barakah yang tekandung di dalamnya.
     Jika ada hal-hal yang kurang sesuai itu semata kebodohan kami dan Anda dapat menulis catatannya di kolom komentar bawah.
Bab VI
Kitab Puasa
Pasal pertama : Cara Menentukan Awal Ramadlan
Diwajibkan berpuasa dengan salah satu dari lima ketentuan berikut :
  1. Dengan menyempurnakan [menggenapkan] bulan Sya'ban 30 hari,
  2. Dengan melihat bulan, bagi yang melihatnya sendiri, sekalipun dia orang fasiq(1),
  3. Dengan menetapkannya dengan persaksian yang adil bagi orang yang tidak melihatnya secara langsung,
  4. Dengan kabar dari seseorang yang adil riwayatnya juga dipercaya kebenarannya, baik yang mendengar kabar tersebut membenarkan atau tidak, atau bila yang membawa kabar tidak dipercaya namun orang yang mendengar membenarkannya, dan
  5. Dengan berijtihad(2) masuknya bulan Ramadlan bagi orang yang meragukan hal tersebut.
Pasal ke dua : Syarat Sah Puasa
Syarat sah berpuasa di bulan Ramadlan itu ada 4 (empat) macam, yaitu : 
( Syarat sah ini juga berlaku untuk puasa sunnah)
  1. Beragama Islam,
  2. Berakal atau sehat,
  3. Suci dari, umpamanya, haidh (termasuk di dalamnya orang yang telah suci dari nifas/ melahirkan), dan
  4. Mengetahui waktu yang diperbolehkan untuk berpuasa.
Pasal ke tiga : Syarat Wajib Puasa Ramadlan
Syarat wajib puasa di bulan Ramadlan ada lima, yaitu :
  1. Islam (orang yang telah bersyahadat),
  2. Taklif (orang yang dibebani kewajiban yaitu yang sudah baligh dan berakal),
  3. Mampu berpuasa (orang yang dalam keadaan dilarang seperti wanita haidh, nifas tidak diwajibkan),
  4. Sehat (tidak sakit yang payah, gila, dll.), dan
  5. Mukim (tidak dalam keadaan bepergian).
Pasal ke empat :Rukun Puasa Ramadlan 
Rukun puasa di bulan Ramadlan ada tiga macam yaitu:
  1. Niat berpuasa setiap malam;  نويت صوم غاض ان عداء فرض شــهر رمضــان هذه سنــة فــرضا للــه تعالى
  2. Meninggalkan segala yang membatalkan puasa dalam keadaan ingat/ sadar, bisa memilih (tidak ada paksaan) dan tidak dalam ketidaktahuan yang dimaafkan(3)
  3. Berpuasa dari sejak waktu imsak(4) hingga terbenamnya matahari (Maghrib)

Catatan kaki :
(1) Fasiq/ Fasik ; Fasik (al-fisq) berasal dari akar kata fasaqa-yafsiqu/yafsuqu-fisqan-fusûqan. Secara etimologis (bahasa), dalam ungkapan orang Arab, fasik (al-fisq) maknanya adalah keluar dari sesuatu (al-khuruj ‘an asy-syay’i) (al-Qurtubhi, Tafsîr al-Qurthubi, 1/246.), atau keluar (baca: menyimpang) dari perintah (al-khuruj ‘an al-amr). Sementara itu, secara terminologis (istilah), menurut al-Jurjani, orang fasik adalah orang yang  menyaksikan tetapi tidak meyakini dan melaksanakan (al-Jurjani, At-Ta’rifat. I/211). Sedangkan al-Manzhur lebih lanjut menjelaskan bahwa fasik (al-fisq) bermakna maksiat, meninggalkan perintah Allah, dan menyimpang dari jalan yang benar.
(2) Ijtihad (اجتهاد) ; adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. 
Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam. Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.
(3) Menelan sisa makanan di sela-sela gigi atau menelan air liur bisa membatalkan puasa. Namun memakan makanan tanpa sadar tengah berpuasa tidak membatalkan, setelah sadar harus langsung dihentikan. Puasanya tetap diteruskan
(4) Imsak ; Menahan diri dari makanan, minuman, dan hubungan suami-isteri (setubuh, jima') sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. 

Posting Komentar