Senin, Agustus 26, 2013

Bertakwa dalam Syukur kepada Allah

tasbih zikir
     Mensyukuri nikmat Allah adalah merupakan bagian yang tidak boleh dilupakan oleh setiap muslim yang bertakwa. Dengan bersyukur seorang muslim akan menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk atau hamba yang sudah seharusnya berterima kasih ketika diberi sesuatu. Bahkan ketika diberi musibah atau ujian sekalipun tetaplah ia tidak boleh menyesali dan mengutuki nasibnya. Bahwa benar
ketika musibah itu datang ia mengucapkan kalimat “ inna lillahi wa-inna ilaihi raajiun “, namun hati yang senantiasa ikhlas dan beriman
tetaplah khusnudzon atas musibah atau ujian itu, bahwa semua datangnya dari Allah dan telah tercatat sejak ia pertama kali diberi ruh di dalam kandungan ibundanya.
     Begitu pula ketika mengucapkan lafadz shalawat
اللــهم صــل عــلى سيــدنا محــمد  atau صــل اللــه عـلى محــمد  yang berarti “ Semoga Allah memberikan kehormatan atau kemulian  kepada Nabi Muhammad “. Kalimat itu menjadi tanda bersyukur ummat Rasulullah kepada sang pemimpinnya, manusia termulia, revolusioner Islam, Pembawa bendera رســول اللــه  لا الــه الا اللــه - محــمد . Bahkan alam semesta ini diciptakan karena kenabian serta kerasulan beliau yang terakhir.  لـولاك لـولاك لـما خــلقت الأفــلاق Kalau tidak karena engkau, kalau tidak karena engkau Muhammad, tidak Aku ciptakan alam semesta ini. 
     Katakanlah seluruh umat Islam bershalawat kepada beliau dan mengikuti sunnah-sunnahnya, itu tidak lantas menjadikan kehormatan dan kemuliaan beliau kian bertambah, karena kehormatan dan kemuliaan beliau telah dijaga oleh Allah. Dan sebaliknya jika seluruh ummat Islam membangkang dengan tidak bershalawat kepadanya bahkan tidak mengakui kenabiannya, itu pun tidak berarti kemudian kehormatan dan kemuliaannya menjadi berkurang. Nabi Muhammad SAW tetaplah seorang Rasul terakhir, dan tidak ada Nabi serta Rasul lain setelahnya. Hanya saja masing-masing ummat Islam perlu bertanya pada hatinya, “ Apakah pantas seseorang yang mengaku muslim tapi tidak mau berterima kasih dan bersyukur kepada Rasulnya ? “
     Syech Muhammad Hisyam Kabbani, mursyid Tariqah Sufi Naqsybandi-Haqqani, dalam taushiyahnya menyatakan ; “ Barangsiapa mengenal dan satu kali saja menangis untuk Rasulullah, maka berarti dia telah mengenal dan taat kepada Allah, Tuhannya. “
     Contoh lain yang baru saja kita lewati adalah peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 68, 17 Agustus kemarin. Ada falsafah hidup, pelajaran berharga dan bahkan insya Allah salah satu penguat iman pada peristiwa tersebut. Contoh dengan diangkatnya tangan kanan ke kening dengan sbg sikap hormat kepada bendera merah putih, itu sudah menjadi bagian dari rasa syukur kita karena diberi kehidupan di bumi bernama Indonesia oleh Allah. Serta merupakan bentuk cinta kepada tanah air. Dan cinta kepada tanah air adalah sebagian daripada iman.
     Hal lain yang juga tidak boleh dilupakan adalah seseorang bersyukur karena diberi kenikmatan berupa Islam, Iman dan ikhsan yang di dalamnya mencakup seluruh kesejahteraan lahir bathin, termasuk keteguhan iman, akhlak yang terpuji, kesehatan, kelapangan hidup, anak-anak dan istri yang shaleh dan shalehan, rumah tangga yang mawaddah warahmah, rizki yang mengalir dan halal, teman-teman sesama muslim yang saling doa mendoakan, dan lain-lain sebagainya, maka hendaknya bertambahlah rasa syukurnya.
     Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabatnya; “ Dan apa tanda-tanda keimananmu wahai sahabat ? 
Sahabat menjawab  : “ Kami sabar akan segala musibah & ujian, kami selalu bsyukur atas segala kelapangan, & kami ridla atas segala keputusan Allah. ”
Rasulullah tersenyum seraya mengucapkan, “ Kalian adalah sebenar-benarnya mukmin.”
     Enambelas hari yang lalu kita baru saja meninggalkan bulan puasa, puasa Ramadlan dimana telah kita jalankan karena taatnya kita kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Pula karena puasa menjadi salah satu pondasi sempurnanya seorang muslim agar senantiasa bertakwa. Seperti firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 ;
يــا أيهــا الــذين امنــوا كــتب عليــكم الصيــام كــما كــتب على الــذين مــن قبلكــم لعلكــم تــــتقــون.
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, “
     Menurut keterangan seorang ulama, kalimat  لعلكــم تــــتقــون mengandung arti agar kalian nantinya terus bertakwa. Jadi bukan berlaku pada masa ketika berpuasa saja, tapi juga pada masa setelahnya serta terus menerus, sehingga kemudian berjumpa kembali pada Ramadlan tahun berikutnya. Oleh karena itu, hendaknya masing-masing muslim sudah bisa membedakan pada 16 hari ini; apakah ia tetap tekun beribadah ? Tetap sabar, ikhlas dan tawakkal ? Tetap tawadlu atau rendah hati ? Tetap santun dan berakhlak  mulia pada sesama ? Serta tetap memikirkan anak yatim piatu dan orang-orang yang membutuhkan, seperti dilakukannya ketika bulan puasa kemarin ? dan lain-lain. Jawaban yang tepat adalah tetap berada pada hati dan diri masing-masing;  انــتم أعــلم منــكم : setiap diri muslim lebih tahu apa yang terdapat pada dirinya serta telah dilakukannya.
     Wallaahu a'lam bish-shawab.
Dari berbagai sumber dengan tata bahasa oleh : Solichin Toip
Posting Komentar