Kamis, Juli 16, 2015

Hikmah Perdamaian dalam 'Idzul Fitri 1436 Hijriyyah

ketua Tanfidziyah Nahdlatul 'Ulama muktamar ke 33 kh. said aqil siraj
Definisi Minal 'Aidin wal Faizin
     Bagi umat Islam yang sudah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kesempatan berhari raya ‘Idul Fitri kemarin adalah saat-saat penting untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Dan suasana tersebut hingga saat ini
masih bisa kita rasakan. Seluruh kesalahan yang pernah dilakukan selama satu tahun, seolah ingin dilebur di hari Lebaran ini, minal a’idin wal-faizin. Taqabbalallaahu minna waminkum. Wakullun ‘aamin wa antum bilkhair.
     Meskipun secara bahasa tidak sesuai arti, tetapi ungkapan itu dalam masyarakat kita sering dimaknai "mohon maaf lahir dan batin". Dan kedalaman maknanya insya Allah akan mewakili maksud dan tujuan masing-masing orang yang bersalaman atau bersilaturrahmi. Dalam istilah agama, ada yang disebut haqqullah atau hak Allah dan ada yang disebut haqqul adami atau hak manusia. Dosa atau kesalahan manusia kepada Allah menimbulkan hak bagi Allah untuk menuntut penebusan dari manusia. Maka, kita menjalankan puasa Ramadhan adalah merupakan upaya menebus dosa dan memohon ampun kepada-Nya. Puncaknya adalah ‘Idul Fitri, yaitu harapan kembali kepada fitrah, kepada kesucian. 

Permohonan Ampun Kepada Allah dan Permintaan Maaf kepada Sesama
     Kembali kepada fitrah atau kesucian disimbolkan dengan adanya maaf dari Allah, yang disempurnakan dengan maaf dari sesama manusia. Kenapa harus manusia yang menyempurnakannya? Karena hal tersebut menyangkut haqqul adami atau hubungan antara manusia dengan manusia. Apakah manusia yang kita salami itu tidak atau akan memaafkan kita, itu adalah urusan dia dengan Allah.
     Dalam kehidupan keseharian atau bermasyarakat, kita pasti tidak luput dari berbuat salah kepada sesama. Allah tidak akan mengampuni kesalahan yang kita lakukan terhadap sesama jika kita tidak mau meminta maaf kepada yang bersangkutan. Di sinilah sebenarnya kaitan antara ungkapan minal a’idin wal-faizin yang dimohonkan vertikal [tegak lurus] kepada Allah, dengan ungkapan mohon maaf lahir dan batin yang disampaikan [horizontal] kepada sesama manusia.
      Mengambil hikmah ulasan KH. Said Aqil Siraj, Ketua PBNU, pada khutbah 'Idzul Fitri besok, bahwa pada dasarnya hidup adalah merupakan suatu gerak, suatu aktivitas dalam mengisi waktu. Ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad manusia, maka hidup kita telah dimulai. Meminjam istilah Dante Alighori, bahwa hidup manusia dimulai di alam kebahagiaan [paradiso]. Karena pada saat itu, fitrah atau kejadian asal manusia bersentuhan secara fisik maupun mental dengan alam materi atau duniawi yang membuatnya tidak lagi bersih atau suci. Ditambah lagi manusia itu adalah makhluk yang lemah sehingga mudah terjerembab ke dalam kenikmatan duniawi  yang semu atau fana. Semakin lama ia tenggelam dalam kemeriahan alam duniawi, maka semakin kotor pula alam ruhaninya. Jika tidak kuat iman maka akan terjatuhlah manusia ke dalam alam kenistaan [inferno].
     Untuk bisa kembali ke dalam alam kebahagiaan, maka manusia harus melalui proses pembersihan diri di alam pembersihan [purgatorio]. Bagi umat Islam, alam pembersihan tidak lain adalah bulan suci Ramadhan, yakni bulan yang di dalamnya didatangkan rahmat, ampunan sekaligus sebagai pencegah agar manusia tidak jatuh ke alam kenistaan. Dengan demikian umat Islam dapat masuk kembali ke alam kebahagiaan, yakni alam kesucian yang dilambangkan dengan adanya 'Idul Fitri.
      Sebenarnya, lambang-lambang dari kecenderungan manusia untuk kembali kepada asal kejadiannya tidak sulit juga ditemukan dalam aktivitas di hari Idul Fitri. Kita melihat misalnya orang-orang selalu menyempatkan diri untuk mudik [pulang kampung]. Mereka bahkan rela berjejal di kereta atau bus, atau berkendara dengan sepeda motor dengan puluhan resiko buruk yang bisa saja ditemui selama dalam perjalanannya. Masih menurut KH. Said Aqil, inilah yang disebut mudik lebaran yang sebenarnya yakni "kembali ke asal" ke kampung halaman atau "kembali ke fitrah"  dalam suasana ‘Idzul fitri.

Mudik Lebaran Bukan Dalam rangka Pamer Kesuksesan
       Apa yang akan mereka lakukan di kampung halaman hendaknya bukanlah untuk pamer keberhasilan selama hidup di perantauan. Tetapi harusnya didorong oleh kecenderungan spiritualnya, yaitu hasrat ruhani untuk berkumpul dengan sanak saudara sekaligus untuk saling memaafkan.

     Memaafkan adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Tidak semua orang mau berbesar hati memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi jika dia menganggap kesalahan itu terlalu besar sehingga kata maaf dianggap terlalu ringan dan tidak cukup untuk menebus kesalahan itu. Jika orang tidak mau memaafkan saudaranya yang dengan rela meminta maaf padanya, maka  artinya dia masih menyimpan dendam.
الذين يُنفقون في السَّــرّاء والضَّــرّاء والكاظمــين الغيظَ والعافــين عن النـاس’ واللـه يحــب المحــسنين. ال عمران : 135
[yaitu] orang-orang yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
     Selanjutnya dalam surat Al-Hijr ayat 47 Allah berfirman :
ونَزَعْنـا ما في صدورهم من غِـلّ اخوانـا على سُـرُر متقــبلين
Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.
     Memaafkan adalah merupakan tingkatan moral atau kualitas akhlak seseorang. Kalau kita memaafkan kesalahan orang lain berarti kita telah menghapus dosa orang itu dan rasa marah kita sendiri. Sebab, keduanya saling berkaitan dengan keikhlasan dan kerelaan. Lalu mampukah kita meletakkan makna ungkapan "mohon maaf lahir dan batin" di suasana Lebaran ini dalam kerangka seperti itu, tanpa syarat dan hanya dalam rangka memupuk persaudaraan yang lebih Islami ?
وعن أنس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تقاطعوا ولا تدابروا ولا تباغضوا ولا تحاسدوا وكونوا عباد الله إخوانا ولا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث متفق عليه
     Pesan Nabiyullah Muhammad SAW, "Jangan sampai perselisihan itu berlanjut lebih dari tiga hari". Mudah-mudahan melalui Hari Raya ‘Idul Fitri kali ini kita bisa memetik hikmahnya agar senantiasa diterapkan dalam kehidupan nyata, agar rasa damai dan persaudaraan selalu menyertai kita, di mana pun dan hingga kapan pun.
     Wallaahu a'lam bish-shawab. 
Dicopy dengan perubahan/ penambahan bahasa yang lebih sederhana dari isi Khutbah 'Idzul Fitri 1436 H. oleh Ketua PBNU Pusat KH. Said Aqil
Posting Komentar