Senin, Agustus 17, 2015

Jurus Barakah Kyai Bagian Pertama : Peluang Bisnis Era Krisis Moneter Tahun 1997

Grup rebana syrakal bumiayu
     Kisah sukses [baca : berkah atau barakah] produk alat musik Suara Tunggal Bahana merek " Solichin Toip " sengaja dibagikan dengan harapan pembaca dan teman-teman yang lain dapat mengambil hikmahnya, jika ada. Setidaknya hal ini akan menjadi
peringatan, renungan dan evaluasi kami dalam menghadapi peri-kehidupan, khususnya dunia bisnis rebana kami, kini dan yang akan datang. 
     Kisah tersebut Insya Allah akan kami turunkan secara bersambung. Dan Cerbung [Cerita Bersambung] tersebut ibarat kaca benggala bagi keluarga kami dalam mengelola produk kerajinan alat musik Islami, tradisional dan moderen. Baik yang berupa kisah suka maupun duka.

Imbas Krisi Moneter
     Sahabat-sahabatku, Krisis moneter atau krisis ekonomi yang melanda dunia dan Indonesia pada tahun 1997 bukan hanya menggulung-tikarkan puluhan perusahaan besar dan kecil di Indonesia, tapi juga berimbas pula pada pendidikan pesantren alfaqir [saya] yang sempat oleng. Hal tersebut terjadi dikarenakan usaha pembuatan alat rebana orang tua kami yang ikut limbung. Orang-orang tentu berfikir lebih baik membelanjakan uangnya untuk kebutuhan pokok dari pada mementingkan hobinya ( bermain Rebana ). 
       Merasa iba alfaqir harus ( terpaksa ) mengalah, demi keberlangsungan pendidikan tiga orang adik. Alfaqir pun keluar dari Pondok Moderen Darunnnajat Pruwatan, Bumiayu, Jawa Tengah, yang telah menempa selama kurang lebih empat tahun ( seharusnya minimal tiga tahun lagi baru selesai dan dilanjutkan mengabdi antara 1 tahun ). Cita-cita suatu saat dapat melanjutkan pendidikan di universitas al-Azhar, Cairo, Mesir pun kandas seketika.
     Dalam kondisi dan situasi bisnis kerajinan rebana yang lesu, alfakir merasa gamang untuk terjun langsung. Sehingga saat itu alfakir lebih banyak menghabiskan waktu dengan merenungi dan merancang masa depan. Bahkan kadang-kadang menyia-nyiakannya tanpa kegiatan apa pun !

Pengrajin Alat Rebana      
     Pada akhirnya karena didesak oleh waktu, usia dan kebutuhan akhirnya alfakir mencoba peruntungan dengan mengikuti jejak orang tua, menjadi pengrajin alat rebana. Namun berbulan-bulan mencari nafkah sebagai pembuat rebana, alfakir merasa apatis dengan masa depan alat musik Islami ini. Sepertinya alat musik Islami ini akan menjadi kenangan saja alias tidak digemari lagi. Namun saya tidak boleh putus asa dan harus mencari terobosan baru, fikir kami waktu itu.
     Tahun 1998 alfakir mencoba memisahkan diri dari bayang-bayang ketenaran label " Toip " yang sebelumnya cukup dikenal sebagai merek terbaik. Kemudian menggantinya [menambahkan]  nama " Solichin " di depannya. Maka jadilah merek " Solichin Toip " sebagai merek paten produk Rebana Hadrah dengan berbagai versinya, Rebana Diba atau Genjring Syrakal, Bass, Qasidah, Marawis, dan produk alat-alat musik kami lainnya.
      Karena mengharapkan pembeli di rumah saja tidak begitu menjanjikan, maka masih pada tahun yang sama alfakir berkeliling ke daerah Cirebon dan Kuningan, Jawa Barat untuk menjual atau memasarkannya. Sekaligus mempromosikan merek STB [Solichin Toip Bumiayu] sebagai salah satu pewaris ke II pengrajin Rebana berkualitas terbaik merek " Toip " dari desa kaliwadas, kecamatan Bumiayu, kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang dirintis sejak tahun 1950-an. 
     Umumnya pendatang baru, tentu nama kami belum begitu dikenal. Beruntung alfakir mempunyai embel-embel " bin Toip " yang sudah lebih dulu dikenal pemakai dan penikmat Rebana Genjring. Sehingga STB merasa diuntungkan dengan kebesaran nama ayah kami tersebut. Disamping kebetulan alfaqir juga pernah belajar mengaji di pondok pesantren Raudlatuth-Thoolibiin Lengkong, Garawangi, Kuningan, Jawa Barat, sehingga dimudahkan untuk menjalin komunikasi lama. Pada akhirnya kami memutuskan membuat jaringan bisnis dengan teman lama asal pribumi [lingkungan pesantren].
     Setelah sempat bersilaturahim terlebih dahulu dengan dua orang guru alfakir yang mulia KH. Uci Syarifuddin dan KH. Harun Ar-Rasyid ( sekarang beliau berdua sudah wafat ), akhirnya beliau berdua berkenan membuat 'memo' kepada alfakir untuk bertemu dan membuat 'kesepakatan bisnis' dengan akhinal-kiram al-ustadz Maksum ( salah satu keluarga mereka ).   
Bersambung ke Bagian II : Market Rebana
Posting Komentar