Minggu, November 15, 2015

Jurus Barakah Kyai Bagian Kedua : Market Rebana

mesjid AgungKuningan, adalah salah satu kota kabupaten di Provinsi Jawa Barat dengan beribukotakan Kuningan. Posisi astronomisnya di antara 108°23" - 108°47" Bujur Timur dan 6°45" - 7°13" Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian timur Jawa Barat dan
berbatasan langsung di sebelah utara dengan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kabupaten Ciamis di selatan, serta Kabupaten Majalengka di sebelah barat
     Kuningan iklimnya berhawa sejuk. Saya menyebutnya dingin, karena pernah merasakan hidup di sini selama kurang lebih 1 tahun lamanya. Juga pernah merasakan dinginnya angin malam di atas bangku kosong, yang sengaja ditinggalkan pedagang kala berdagang di siang hari, di trotoar samping Mesjid Agung Kuningan. 
     Saat itu penulis tengah berkeliling memasarkan rebana dari rumah ke rumah serta dari pesantren ke pesantren. Hingga pada akhirnya bertemu dengan akhina alustadz Maksum di pesantren Raudlatuth-Thoolibiin, Kuningan, seperti yang telah kami singgung pada postingan sebelumnya.
     Perjuangan hidup yang amat berat dan luar biasa, setidaknya menurut penulis, demi mengangkat eksistensi rebana yang hampir punah. Juga demi mengangkat perekonomian pengrajin rebana yang masih terpuruk.

Strategi Pemasaran
     Pengalaman lain yang penulis dapatkan setelah berkeliling dari kampung ke kampung di luar kota adalah dengan mendapatkan strategi baru dalam menjaring penikmat musik rebana yang selama ini tidak diketahui. Perkembangan yang tengah terjadi di luar, terutama di beberapa pesantren yang notabene sebagai basis seni Islam itu dikibarkan, ternyata berbeda jauh dari produk instrumen musik yang selama ini dibuat di sentral rebana Kaliwadas, Bumiayu. Dengan kata lain produk industri kecil kerajinan rebana di desa Kaliwadas ternyata tertinggal beberapa langkah dengan industri yang sama dari daerah lain. 
     Kerajinan rebana di desa Kaliwadas hanya berkutat pada pembuatan rebana Diba, Syrakal, Qasidah dan kolaborasinya saja, yang peminatnya saat itu hanyalah orang-orang dewasa dan orang tua saja. Padahal ada produk rebana lain yang tengah ramai dibicarakan, yakni rebana Hadrah versi Salafudin Pekalongan dan Simtudh-Dhurar (Al-Banjari) yang peminat dan penikmatnya kebanyakan anak-anak remaja.      
    Maka prioritas ekspansi ( terobosan ) baru produk rebana segera kami susun. Ia menjadi alternatif agar dapat mengangkat nilai jual kerajinan alat musik produk kami dan yang lainnya yang hampir collaps. Ketika produsen lain di desa kami belum mengetahui dan memproduksi, kami sudah melangkah maju, membuat rebana Hadrah dengan kolaborasi bass cepernya yang tengah laris di pasaran itu. 
     Promosi gencar segera kami lakukan. Meskipun dengan cara konvensional atau apa adanya.
     Berhasilkah ? Alhamdulillah, lambat laun nilai jual rebana Kaliwadas mulai terangkat. Para pembeli pun mulai berdatangan ke desa kami. Maka, para penikmat musik shalawat itu, yang kebetulan tidak langsung datang ke rumah kami otomatis tetap akan menggunakan produk kami juga, meski tanpa merek Solichin Toip. Karena pengrajin lain tetap akan datang membeli produk kami untuk melayani tamu atau pembeli yang datang ke rumah mereka.
     
Bersambung ke Jurus Barakah Kyai Bag. III 
Lihat lagi Bagian Pertama : Peluang Bisnis Era Krisi Moneter Tahun 1997
Posting Komentar