Jumat, April 29, 2016

Memaknai Arti Insya Allah

     Ucapan " Insya Allah " adalah kalimat yang sudah tidak asing lagi kita ucapkan dan dengarkan di setiap kesempatan. Ia ibarat penyedap rasa bagi sebuah percakapan penting antara manusia muslim, di keseharian_khususnya yang berkaitan dengan pemberian harapan atau tekad seseorang terhadap seseorang
lainnya. Kata "  insya Allah " bahkan kerap diucapkan untuk sebuah janji yang sebenarnya akan dilanggar, kemauan yang tidak teguh, atau pemberian harapan yang sebetulnya tidak pasti. Dengan kata lain " Insya Allah " juga sering diterima dan digunakan begitu saja tanpa menyesuaikan makna, penggunaan serta penempatan yang semestinya.
     Namun, meski lebih sering kita jumpai, bukan berarti semua itu tepat. Bagi orang yang tawadlu [ rendah hati ] serta berhati-hati dalam berucap, maka kata " insya Allah " adalah bentuk peneguhan dan pemasrahan sepenuhnya, bahwa semua yang akan terjadi adalah urusan Allah semata. Sementara seseorang hanya bisa berikhtiar selayaknya manusia beriman, yakni dengan bersungguh-sungguh mewujudkannya. " Saya ingin menyenangkan semua orang.... Saya ingin mengatur hidup saya serinci-rincinya... Saya ingin segala sesuatu tampak sempurna di hadapan orang lain... dan lain sebagainya, dan lain sebagainya....". Kata-kata demikian tak lebih bentuk azam atau keinginan manusiawi yang pada hakikatnya Allah SWT yang punya hak sebagai Penentu. 
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا . إِلّا أَنْ يَشَاءَ الله
 " Dan janganlah engkau mengatakan sesuatu, ' aku akan melakukannya besok. ' Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan Insya Allah ." [ QS. Al-Kahfi : 23-24]

" Insya Allah " Bersumber dari Al-Quran
      Mengucapkan kata " insya Allah " sesungguhnya bersumber dari Al-Quran yang berarti " Jika Allah menghendaki ". Ayat ini mengandung pendidikan bagi pengucapnya yaitu tentang pentingnya berendah hati. Tidak mengandalkan kemampuan pribadi, karena sesungguhnya ada kekuatan Yang Maha Besar dibanding dirinya, yakni takdir dan iradah Allah SWT.
     Mengucapkan " insya Allah " juga merupakan bentuk keinsyafan atau kesadaran seseorang, bahwa di balik peristiwa di sekitarnya ada Sang Maha Penentu. Tak selalu apa yang diinginkan terwujud. Seluruhnya bersifat tidak pasti, dan justru karena itulah manusia dituntut untuk berikhtiar. Sehingga kata " insya Allah " menjadi perwujudan pengakuan atas kelemahan diri, penghambaan di hadapan Allah Sang Maha Penentu dan Kuasa. Kita sebagai manusia muslim dilarang memastikan perbuatan yang masih dalam rencana, karena yang demikian termasuk cermin keangkuhan di hadapan Tuhan, Sang Penguasa Alam Semesta. Manusia tidak mungkin mengandalkan secara mutlak 'kekuatan' yang ada pada dirinya. Sebagai makhluk manusia membutuhkan Kudrat dan Iradat Allah SWT. Seberapapun jerih payahnya tetaplah ia sebatas pada kata " berusaha " atau berikhtiar saja.
     Allah telah menganugerahi manusia nurani, akal, tenaga dan segenap kemampuan lainnya. Semua itu merupakan modal sekaligus tanggung jawab untuk dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Maka, Islam mengajarkan umatnya untuk menyusun rencana, mempersiapkian diri serta mengusahakannya. Selebihnya adalah tawakkal atau berpasrah diri total atas kehendak Allah. 
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ 
" Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ". [ QS Ar-Ra'du: 11 ]
Ayat lain menyebutkan :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
" Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap pribadi memerhatikan apa yang dia persiapkan untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. " [ QS Al-Hasyr : 18 ] 
     Tawakal adalah sikap yang muncul dari kesadaran manusia atas dirinya yang lemah di hadapan Allah. Menggantungkan keputusan final kepada Sang Maha Pencipta setelah daya upaya dikerahkan secara maksimal. Sikap inilah yang membuatnya selalu merasa penting untuk berdoa, memohon pertolongan dan petunjuk sehingga kehendak yang dirumuskannya diridlai dan dikabulkan oleh Allah SWT. Dan bilapun tak terkabul, maka tak lantas menyesali diri sendiri, karena sejak awal memang sudah memasrahkan hasil bukan kepada dirinya sendiri atau orang lain, tapi kepada Sang Maha Kuasa Allah SWT.
     Rinskasnya, "Insya Allah " bukanlah ucapan basa-basi atau tempat berlindung dari ketidakteguhan janji seseorang kepada orang lain. Ia mengandung pendidikan tentang sikap tawaduk, serta iman seorang muslim kepada Qadla dan Qadar-NYA. Penghayatan kepada makna hakiki insya Allah juga membawa manusia pada puncak kesadaran bertaukhid, yakni : " Hanya Allah tempat bergantung segala sesuatu ."  
     Wallahu a'lam bish-shawab.
Sumber NU Online dengan penyederhanaan kalimat  
Posting Komentar