Jumat, Mei 20, 2016

Ritual Syaban Menuju Puncak Pahala Ramadlan 1437 Hijriyyah

      Segala pujian dan sanjungan hanya milik Allah SWT. Maka jadikanlah hakikat pujian itu ketika diucapkan kepada makhluk-Nya, niatnya tetap dalam rangka memuji Allah sebagai penciptanya. Lalu bagaimana  kalau ada manusia yang mudah senang dengan pujian? Maka
hendaknya ia banyak memohon ampun dan mawas diri, kembali pada hakikat kalimat اَلْحَمْدُ لله 
     Shalawat dan salam, kehormatan dan kesejahteraan, dihaturkan kepada pembawa panji-panji Islam, pembawa syariat taqwa dan keteladanan bagi ummatnya yang beliau kasihi hingga yaumil qiyamah kelak. Sesungguhnya adanya kita dan seluruh alam semesta, itu diciptakan karena akan diwujudkannya sosok Rasulullah SAW nan mulia.  “ Laulaaka yaa Muhammad, maa khalaqtul aflaaq.
     Seorang  muslim harusnya  juga tidak lupa untuk pandai bersyukur, Alhamdulillah hingga saat ini kaum muslimin masih diberi kesempatan dan kenikmatan mengikuti perjalanan ma’isyahnya bulan sya’ban 1437 Hijriyyah. Bulan ketika pada malam ke 15, insya Allah besok malam, amaliyah seorang hamba diangkat oleh Allah dan diganti dengan catatan baru yang masih kosong. Akan bagaimanakah raport kita ? Wallaahu a’lam bish-shawab. Hanya Allah yang Maha Tahu. Bagi seorang mukmin yang lebih penting adalah merasa banyak dosa sehingga terus semangat memperbaiki diri, daripada merasa banyak pahala sehingga berlaku sombong dan lupa diri.
     Sya’ban sebagai bulan yang yang dimuliakan oleh Rasulullah adalah merupakan bulan persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadlan. Tidak masalah jika seseorang yang hendak menyambut bulan puasa kemudian menyusun dan belanja aneka menu berbuka dan bersantap saur, belanja pakaian dan makanan, memperbaharui tempat tinggal, bahkan mungkin mengganti kendaraan baru, dsb. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah menu-menu ibadah  yang harus lebih diperbaharui, diperbanyak dan lebih penting lagi bisa lebih istiqamah.
     Sya’ban, juga ada yang menerangkan sebagai bulan pengikisan dosa, bulan introsfeksi/ mawas diri. Dan jika mampu, bulan ini merupakan bulan untuk memperbanyak puasa sunnah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“ Bulan itu (Sya‘ban) berada di antara Rajab dan Ramadhan adalah bulan yang dilupakan manusia dan ia adalah bulan yang diangkat padanya amal ibadah kepada Tuhan Seru Sekalian Alam, maka aku suka supaya amal ibadahku diangkat ketika aku berpuasa ”. ( HR. an-Nasa’i)
     Sya’ban ada pula yang memaknai sebagai jalan setapak menuju puncak. Artinya bulan sya’ban adalah bulan persiapan yang disediakan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menapaki dan menjelajahi keimanan serta ketakwaannya dalam rangka mempersiapkan datangnya bulan mulia nan suci yaitu Ramadhan.

Ramadlan Sebagai Puncak Gunung Emas
     Ibarat Ramadlan itu adalah puncak gunung emas, maka Sya’ban adalah lereng atau perbukitan yang harus dinaiki. Maka akan mustahil seorang muslim dapat meraih gunung emas itu jika kemudian malas berjalan menaiki bukitnya.
     Berjalan dilereng bukit tentunya bukanlah pekerjaan mudah. Ada banyak rintangan yang akan dilalui baik yang timbul dari faktor alam sekitar, juga yang akan timbul dari diri sendiri seperti perasaan malas, merasa tidak mampu, putus asa, dll.
     Selain berpuasa sunnah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam Hadits tadi, masih banyak cara dalam rangka pendakian menuju dan meraih puncak emas itu, yakni dengan memperbanyak istighfar, bershalawat kepada Rasulullah, berziarah kepada keluarga baik yang masih hidup ataupun sudah wafat, mempererat tali silaturahmi dan menyambung silaturahmi baru dengan sesama, memperbaiki akhlak_baik akhlak kepada Allah maupun manusia. Kemudian bershadaqah, zakat, dan semua jenis amal yang bernilai ibadah lainnya.
     Semua itu tentu tidaklah ringan dan mudah. Namun sebagai seorang muslim yang beriman, kita tidak boleh putus asa dalam meraih rakhmat Allah.
قل يعباديَ الذين اَسرَفوا على انفسهم من رحمـة اللــه قلى ان اللّــه يغفــر الذنوب جميعــا قلى انه هو الغفــور الرحيم. [ 39 : 53 ]
Katakanlah : Hai hamba-hamb-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya ( kecuali dosa syirik ). Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ [ QS. Az-Zumar 53 ]
     Semoga kita bisa melalui Sya’ban ini dengan baik dan dapat dipertemukan dengan bulan puasa Ramadlan serta dapat merengkuh puncak emas atau pahala lailatul qadarnya. Allahumma amin…
     Wallaahu a'lam bish-shawab.
Dari berbagai sumber
Posting Komentar