Sabtu, September 17, 2016

Ketika Tangan-tangan Malaikat Memberikan Pertolongan


Gedung megah Jamarat adalah tempat di mana jutaan jamaah haji berjalan mendekat menuju Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah untuk melemparkan tujuh kerikil pada masing-masing  jamarat dalam waktu
hampir bersamaan. Datang bak segerombolan raksasa menuju satu titik “ tugu sasaran lempar “ dalam sautan-sautan takbir, lalu kemudian menjauh segera, bergantian dengan jamaah haji yang datang di belakangnya.
     Sesekali datang jamaah haji khususnya dari negara di Afrika yang tinggi besar dan konon suka memaksa menerobos barisan jamaah lainnya yang postur tubuhnya lebih kecil. Ana sendiri bersama istri jika mereka tengah memapas jalan maka kami kemudian segera berjalan cepat jauh di depannya. Jika tidak mempunyai kesempatan maka kami segera melambat di belakang tubuh mereka.

Malaikat Penolong
     Ada keajaiban yang tak terlupakan ketika kami memasuki jamarat pada hari kedua tanggal 10 Dzulhijjah 1437 Hijriyyah, sehabis melempar tujuh kerikil ana tersadar ketika kantong berisi kerikil tujuh biji yang akan digunakan untuk balang jumrah aqabah menghilang begitu saja dari pergelangan tangan kiri. 
     Sang istri sedetik panik dan segera membantu mencari namun secepatnya ana meraih pundaknya agar menjauh. Amat berbahaya berbalik arah apalagi sambil menunduk-nunduk ke bawah di antara ratusan ribu orang yang tengah berjuang berebut mendekati batas tugu jamarat
     Di antara sedetik kepanikan sang istri tiba-tiba hati ana seperti ada yang membisiki: “ Ah, nanti juga ada Malaikat yang akan mengantarkannya.
    Segera ana meminta kelebihan lima butir kerikil punya istri dan meminta tambahan dua kerikil lainnya dari seorang teman. Kami lalu segera berjalan menuju tugu terakhir, jumrah Aqabah. Namun leher ini tiba-tiba tergerak ke belakang, menengok dan sempat terpana ketika seorang teman yang lain menyodorkan kerikil yang hilang bersama kantong putihnya !
     Subhanallah.... Ana tak bisa membayangkan kenapa dia bisa menemukan kantong kerikilku di antara ratusan ribu kaki jamaah. Dan istrinya yang berada di sisinya, memberikan senyum termanis yang belum pernah kulihat hingga detik itu ketika saya mengucapkan kalimat “ terima kasih ”.
     Ajaibnya ketika kejadian tersebut kami ungkapkan lagi ke mereka ketika sudah berada di maktab ( hotel ), mereka sama sekali tidak mengakuinya !  Bahkan mereka sempat bingung kala kami tersenyum mengucapkan terima kasih. 
" Terima kasih unuk apa ? " tanda tanya keduanya saat kejadian tersebut.
     Allaahu akbar ! Siapakah mereka ya Allah ? Benarkah keduanya Malaikat yang Engkau utus untuk membantu kami?
     Wallaahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar