Sabtu, Desember 17, 2016

Hikmah Maulid Nabi 1438 Hijriyyah

Raudhah sebuah tempat mustajab berdoa, samping makam Rasulullah Saw
     Ummat beragama di Indonesia patut berbangga hati karena hidup di negeri bernama Indonesia yang tenteram, makmur dan subur tanahnya: Gemah ripah loh jinawi_jika dibanding negara-negara lainnya. Dan kita, sebagai umat Islam, tidak boleh lupa bersyukur karena peri-kehidupan berbangsa dan
beragama di sini lebih baik dan aman daripada pemeluk Islam lainnya, dari bangsa lain. Mereka tidak hanya kesulitan mencari nafkah ataupun sesuap nasi, namun juga kesulitan untuk menunaikan kewajibannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya_karena pemerintahannya yang zalim ataupun pemeluk agama lainnya memusuhinya. Mereka bahkan menghadapi ancaman pembunuhan tanpa mengetahui sebabnya kenapa harus dibunuh atau dimusnahkan. Yang demikian kata Nabi SAW menjadi salah satu tanda-tanda mendekatnya hari kiamat.
     Ada  Hadits Nabi yang menyatakan bahwa kelak akan ada kebangkitan Islam kedua yang sumbernya dari negeri timur_Kebangkitan Islam yang pertama adalah ketika zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Jika yang dimaksud Rasulullah  itu adalah Indonesia yang mayoritas Islam, maka bersyukurlah kita. Karena kelak Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan makmur. Bukan lagi istilah akan menjadi macan asia tapi bahkan mungkin akan menjadi macan dunia. Pemeluk Islam akan tumbuh berkembang dan terus membesar. Kita tidak saja mampu menolong bangsa sendiri tapi juga akan menolong saudara-saudara seiman kita dari bangsa lain_ dari penindasan-penindasan kaum non muslim dan pemerintahannya yang zalim.

Indonesia menjadi incaran bangsa lain
      Namun sayangnya ‘ramalan’ kejayaan Indonesia juga sudah dan sedang menjadi incaran bangsa lain karena di negeri ini begitu berlimpah-ruah kekayaan tersembunyi yang belum dikelola dengan maksimal dan adil. Baik yang masih berada di lautan, perut bumi maupun hutannya_dari Sabang hingga Merauke. Belakangan ini Panglima TNI, bahkan sudah beberapa tahun yang lalu Almukarram alHabib Lutfi bin Ali bin Yahya, Presiden Thariqah Indonesia, selalu mengingatkan kesiapan kita dan bangsa ini, khususnya ummat Islam dalam rangka menghadapi fenomena kekayaan dan kemajuan pesat bumi pertiwi yang sedang mereka incar. Kita berharap semoga negeri yang kita idam-idamkan; baldatun thayyibatun warabbun ghafur [ negeri yang makmur dalam naungan ridla dan ampunan Allah ] benar-benar akan menjadi kenyataan dan kita diberi umur panjang untuk mengalaminya. Seorang ulama menyatakan insya Allah kita tetap akan kuat jika zikir dan shalawat Nabi tetap di dengungkan. Karena, menurut beliau, zikir dan shalawat ibarat akar atau pondasi yang kokoh untuk menjaga pohon yang besar atau bangunan megah yang ada di atasnya.
     Ada kisah nyata guru Almarhum Almaghfurlah As-Syech Alwi Al-Maliki dan Syech Utsman Mekkah ketika berziarah ke makam Rasulullah di mesjid Nabawi Medinah. Rasulullah berkenan menjumpainya dan memperlihatkan gambaran lautan manusia dari berbagai suku .Rasulullah menyatakan, “ Mereka adalah bangsa Indonesia yang sangat mencintaiku dan aku mencintai mereka “. Kisah ini diceritakan oleh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi pengasuh pondok pesantren asy-Syifaa Sumedang.
     Guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki terharu dan terkejut sehingga keluar dan mencari-cari orang Indonesia di sana. Hingga kemudian, sebagai tanda cintanya kepada Rasulullah dan umat Islam Indonesia, beliau lalu membangun pesantren yang dikhususkan untuk orang-orang Indonesia. Jika kita beribadah haji maka usahakanlah menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam beliau dalam rangka ngalap barakah.
     Yang demikian menjadi kabar gembira bagi umat Islam Indonesia agar terus istiqamah mencintai Rasulullah SAW dengan memperbanyak shalawat, berlomba memperingati maulidnya serta terus belajar mengikuti sunnah dan akhlaknya nan mulia.

Dunia dan alam semesta diciptakan untuk menyambut Nabi dan Rasul akhir zaman
     Dunia dan seisinya ini diciptakan oleh Allah SWT dalam rangka menyambut kedatangan Nabi dan Rasul akhir zaman. Maka di setiap doa disamping diawali dengan memuji Allah sebagai Sang Maha Pencipta hendaknya diteruskan dengan bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW baru kemudian menyampaikan hajatnya serta ditutup dengan shalawat lagi. Ibarat seorang rakyat hendak menemui seorang pejabat, gubernur umpamanya, maka ia tidak bisa serta merta masuk, slonong boy. Ada tahapan-tahapan tertentu sehingga kemudian benar-benar bisa bertemu dan berbicara langsung dengan bebas dan nyaman. 
      Dan seperti yang sudah kami tulis di atas, demikian halnya jika seorang muslim hendak meminta sesuatu kepada Allah maka pujilah DIA dan pujilah sekehendaknya kepada manusia pilihan-Nya, Nabi Muhammad SAW. Masalahnya apakah Rasulullah mengenal setiap muslim? Apakah setiap muslim akan menjadi bagian dari ummatnya yang akan mendapat syafaatnya kelak ? Wallahu a’lam. Jika mampu, ikhtiarnya berangkatlah haji dan perkenalkanlah diri pada beliau. Namun jika tidak mampu dekatilah ulama, karena mereka adalah para pewarisnya, penyambung lidah dan ketauladanannya. [Hadits at-Tirmidzi dari Abu Ad Darda ra].
Rasulullah mengibaratkan ulama sebagai : مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ
Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”
     Maka sangat keliru dan sombong sekali jika ada salah satu atau kelompok Islam yang enggan memuji Rasulullah, bahkan kemudian menganggap pujian itu sebagai perbuatan sia-sia atau bid’ah.
Sahabat Abu Bakar as-Shiddiq r.a. berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda :
من صلى علي كنت شَفِيعَه يوم القيامة
Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka aku akan memberinya syafaat pada hari kiamat. “ (HR. Ibnu Syahiin dalam at-Targhib dan Ibnu Basykawal).
Posting Komentar