Rabu, Maret 15, 2017

Mencari Bekas Takwa Pada Perilaku Seorang Muslim

     Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari seseorang sering menampakkan sikap membeda-bedakan orang satu dengan orang
lainnya_berdasarkan kriteria atau alasan yang tidak semestinya. Orang kerap lebih ramah dan menaruh perasaan hormat lebih tinggi kepada yang berlebih dibanding kepada mereka yang kurang. Yang seharusnya, ada keseimbangan saling menghormati dan sama-sama menebar keramahan antara keduanya agar tidak ada kecemburuan sosial yang kemudian bisa berimbas pada hal-hal yang tidak diinginkan.
     Di zaman modern kini, kita mungkin sering menyaksikan di media televisi dan lainnya, sejumlah suku atau etnis tertentu merasa lebih unggul dari suku lainnya, sekelompok keturunan tertentu merasa lebih mulia daripada keturunan lainnya. Pribumi memandang non pribumi sebagai musuh atau ancaman, sementara non pribumi memandang pribumi sebagai kaum marjinal, kaum miskin yang harus dipinggirkan atau disingkirkan. Bahkan di Jakarta khususnya, pribumi dan pribumi bisa terlibat kerusuhan atau tawuran hanya karena hal-hal sepele dan ingin mempertahankan harga diri bloknya.

Yang Termulia di sisi Allah adalah Orang Yang Bertakwa
     Islam yang hadir di tengah kentalnya sukuisme dan diskriminasi  [pembedaan] kasta [keturunan] di masa Arab jahiliyah dulu menafikan [meniadakan] model sikap yang demikian. Artinya Islam hadir untuk memberantas perbedaan dan menegakkan keadilan. Ia memberi kriteria objektif [pilihan yang adil], bahwa derajat kemuliaan seseorang itu terletak bukan pada siapa leluhurnya tetapi pada bagaimana kualitas takwanya.
     Jelasnya Allah SWT dengan tuntunan agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak melihat seseorang pada berapa jumlah hartanya, kedudukan, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, profesi [pekerjaan], suku, bangsa, status sosial dsb. sebagai sebuah ukuran dan penilaian. Siapa pun orangnya, bila mampu meraih ketakwaan yang sesungguhnya maka dialah yang termulia di sisi Allah SWT.
      Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13 berpesan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Pengertian Takwa
     Pengertian takwa antara lain adalah “takut kepada Allah”, sebagian yang lain memaknai; “menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya”. Kedua pemaknaan tekstual yang berulang kali kita dengar ini adalah benar, meski tak sepenuhnya mewakili makna yang lebih mendalam darinya.
     '' Takwa sejatinya bermakna kesadaran penuh akan kehadiran Allah SWT dalam setiap sendi kehidupan seorang muslim sehingga ia berusaha keras menyesuaikan diri dengan tata nilai Rabbaniyyah (Ketuhanan). ''
Ia meng-andaikan adanya gerak batin, penjiwaan, dan keinsyafan bahwa Allah meliputi diri-Nya. Puncak kesadaran tersebut bisa dicapai di antaranya dengan merenungkan kehidupan ini: dari mana kita berasal dan akan kemana kita kelak. Allah SWT diimani sebagai sebab keberadaan alam semesta beserta segenap isinya. Seorang muslim beriman kepada Allah tidak sekedar karena takut masuk neraka atau mengharap surga, tapi lebih disebabkan karena sebuah kewajiban seorang hamba kepada pencipta-NYA. Pengibaratan seorang anak menghormati orang tua bukan sekedar karena ingin paling disayang tapi lebih dikarenakan orang tuanya maka kewajiban anak adalah menghormatinya.
     Keharusan untuk menyesuaikan diri dalam kesadaran kehadiran Allah membuat orang beriman memiliki komitmen [pegangan] moral yang tinggi berupa ‘amal shalih [kebajikan]. Dengan demikian, takwa meskipun menyangkut hubungan vertikal [tegak lurus] kepada Sang Maha Pencipta, tetapi ia juga mempunyai hubungan horizontal, kewajiban hubungan baik kepada sesama serta lingkungan di sekitarnya.   
'' Maka seorang muslim yang benar-benar bertakwa kepada Allah adalah seorang muslim yang juga mempunyai sikap baik kepada sesama serta lingkungannya. Ia berketuhanan dan sekaligus berkemanusiaan. ''
     Pada akhirnya, amal shaleh adalah konsekuensi wajib bagi orang yang bertakwa, orang yang memiliki kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidupnya. Amal kebaikan, baik kepada alam sekitar maupun kepada orang lain dalam keseharian, menjadi bukti bahwa takwa tak hanya terucap lewat lisan, tetapi juga terpatri dalam hati dan jiwa seseorang. 
     Wallahu a'lam bish-shawab.

Dicopy dari konsep khutbah di NU On line 
dengan perubahan kalimat seperlunya.
Posting Komentar